RAMADHAN DI TENGAH WABAH COVID 19

Oleh :Irsyad Syafar,Lc,M.Ed

Ramadhan sudah di ambang pintu. Bulan mulia yang selalu kita tunggu. Siapapun yang beriman akan senantiasa berharap dapat bertemu dengan bulan mulia ini. Bahkan itu merupakan doa-doa orang shaleh sepanjang masa.

Tapi kondisi saat ini sangat tidak menentu. Virus corona ini entah kapan akan berakhir. Dimana-mana data pasiennya belum berhenti bertambah. Apalagi berkurang atau menurun. Sepertinya Ramadhan kali ini kita umat Islam akan melewatinya ditengah wabah.

Ada rasa cemas tentang ibadah kita nantinya di Ramadhan. Akankah bisa semarak seperti tahun-tahun yang lalu? Apakah tarawih kita bisa lebih ramai dan khusyuk dibanding Ramadhan kemaren? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang terus mengganggu pikiran kita. Apalagi Menteri Agama RI sudah pula mengeluarkan surat edaran tentang shalat tarawih di rumah masing-masing.

Semua kegalauan dan kecemasan ini sebenarnya sangat positif. Itu menandakan betapa kita sangat bersemangat untuk mengisi Ramadhan secara optimal dengan ibadah dan amal shaleh. Ini pertanda hati yang hidup dan bercahaya. Sebab hati yang hidup selalu merindukan kebaikan.

Agar Ramadhan kita besok ini dapat optimal dengan amal shaleh, kita harus tetap optimis. Walaupun kita tengah menghadapi wabah corona dan pembatasan jarak sosial, beberapa hal berikut dapat kita lakukan:

*1. Terus berdoa agar bertemu Ramadhan*

Kita harus selalu berdoa kepada Allah SWT agar umur kita disampaikan ke bulan Ramadhan. Sebab bertambahnya umur dan berjumpanya kita dengan Ramadhan serta bertambahnya ibadah-ibadah kita, itu semua dapat meninggikan derjat kita melebihi orang-orang shaleh yang sudah wafat sebelum Ramadhan.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah diceritakan bahwa ada dua orang sahabat yang sangat akrab dan dekat. Keduanya sama-sama ikut berjuang di jalan Allah. Namun salah satunya lebih dahulu syahid dalam medan jihad. Sementara yang satu lagi baru wafat setahun kemudian.

Rupanya salah seorang sahabat Nabi yang bernama Thalhah bin Ubaidillah, melihat di dalam mimpinya bahwa yang wafat kedua lebih dimuliakan oleh Allah SWT dari pada orang yang syahid pertama. Bahkan dia didahulukan masuk surga dari temannya yang lebih dahulu mati syahid tersebut.

Thalhah bin Ubaidilah sangat heran dengan mimpinya itu. Sehingga ia bertanya kepada Rasulullah SAW kenapa hal itu terjadi. Baginda menjawab:

أليس قد مكث هذا بعده سنة» قالوا: بلى، قال: «وأدرك رمضان فصام وصلى كذا وكذا من سجدة في السنة»، قالوا: بلى، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «فما بينهما أبعد مما بين السماء والأرض.

Artinya: “Bukankah dia masih hidup satu tahun setelahnya (kawannya syahid)?” Para sahabat menjawab, “Benar.” Rasullullah SAW bertanya lagi, “Bukankah dia berjumpa lagi dengan Ramadhan dan berpuasa? Dan juga dia shalat sekian banyak shalat dan sujud dalam setahun?” Mereka menjawab, “Benar.” Rasulullah SAW berkata, “Maka jarak (kemuliaan) antara mereka berdua melebihi jarak antara langit dan bumi.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad).

Ternyata sahabat yang wafat secara biasa setahun setelah syahid rekannya, bisa menjadi lebih tinggi derjatnya di sisi Allah SWT, lantaran ia bertemu lagi Ramadhan dan dapat berpuasa, serta ratusan shalat dan sujud yang masih bisa ia lakukan, melebihi orang yang sudah meninggal.

Barangkali itulah rahasianya kenapa salafush shaleh selalu antusias berharap pertemuan dengan Ramadhan. Dan do’a mereka sangat terfocus ke bulan Ramadhan. Al-Mu’alla bin Fadhl seorang Ulama Tabi’ Tabi’in mengatakan bahwa:

كانوا يدعون الله ستة أشهر أن يبلغهم شهر رمضان ثم يدعون الله ستة أشهر أن يتقبله منهم.

Artinya: “Para salaf (sahabat) biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Dari Abu ‘Amr Al-Auza’i berkata: Adalah Yahya bin Abi Katsir berdoa memohon kehadiran bulan Ramadhan:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ ، وَتُسَلِّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً

Artinya: “Ya Allah, sampaikan aku dengan selamat ke Ramadhan, sampaikan Ramadhan kepadaku, dan terimalah amalku di Ramadhan.” (Hilyatul Auliya’: I/420)

*2. Menghadirkan Hakekat dan Identitas Ramadhan*

Kita harus memahami kembali tentang hakekat bulan Ramadhan dan identitas bulan tersebut. Dari ayat dan hadits-hadits yang shahih sudah sangat jelas bahwa Ramadhan adalah bulan shiyam (puasa), bulan qiyam (shalat malam), dan bulan Al Quran. Itu adalah identitas yang sangat nyata bagi bulan Ramadhan.

Maka kita mesti menghadirkan identitas tersebut pada diri dan keluarga kita selama bulan Ramadhan. Dengan adanya wabah covid 19 ini yang membuat keberadaan kita di rumah lebih banyak, maka sesungguhnya kita sangat bisa untuk maksimal melakukan aktifitas puasa, qiyamullail dan tilawah Al Quran.

Para peneliti dan dokter sudah banyak yang menyampaikan bahwa puasa tidak akan membuat turunnya imunitas seseorang dan tidak akan membuatnya rentan dari virus corona. Hanya saja perlu diupayakan makan sahur yang maksimal dan sangat dekat dengan waktu shubuh. Sehingga fisik tetap kuat sampai sore hari.

Adapun terkait qiyamur Ramadhan atau shalat tarawih, kita tidak perlu terlalu sedih bila masjid belum bisa melaksanakannya. Shalat tarawih di rumah juga suatu yang baik dan dapat dilaksanakan. Bahkan Baginda Rasulullah SAW aslinya melaksanakan tarawih di rumah saja. Hanya dalam 3 atau 4 hari pertama saja Beliau yang shalat di masjid. Selebihnya Beliau lakukan di rumah. Karena Beliau khawatir nantinya akan dianggap wajib oleh umatnya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَصَلَّى بِصَلَاتِهِ نَاسٌ ثُمَّ صَلَّى مِنْ الْقَابِلَةِ فَكَثُرَ النَّاسُ ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنْ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوْ الرَّابِعَةِ فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنْ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ (رواه البخاري ومسلم).

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam shalat di masjid, lalu banyak orang shalat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah SAW justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, “Sunguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila shalat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, “Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan pelaksanaan shalat tarawih di rumah, peluang amal shaleh menjadi bertambah. Pertama, seluruh anggota keluarga bisa ikut serta, kecuali yang udzur syar’i. Kalau ke masjid mungkin tidak semuanya yang bisa ikut. Kedua, pelaksanaannya bisa lebih tenang dan santai. Tidak memaksa cepat selesai. Bila tuntas 4 raka’at bisa istirahat sejenak untuk menambah tenaga. Kemudian dilanjutkan kembali. Ketiga, kepala keluarga bisa langsung menjadi imam, baik dengan bacaan-bacaan pendek yang sudah hafal, ataupun juga boleh membaca ayat dengan melihat mushaf Al Quran.

Dalam madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hambali, mengimami shalat sunnat sambil melihat mushaf hukumnya adalah boleh. Hal itu berdasarkan hadits riwayat Imam Bukhari secara mu’allaq:

أن مولى لعائشة يقال له: ذكوان كان يؤم الناس في رمضان وكان يقرأ من المصحف.

Artinya: “Bahwa mantan budak Aisyah, yang namanya Dzakwan, beliau mengimami masyarakat ketika Ramadhan dan beliau sambil membaca mushaf.” (HR Bukhari).

Adapun terkait Al Quran, sesungguhnya keberadaan kita di rumah selama darurat covid ini menjadi peluang besar untuk interaksi maksimal dengan Al quran. Mulai dari membacanya, mentadabburinya, menghafalnya sampai mengamalkannya. Seluruh anggota keluarga bisa berlomba-lomba dalam membaca atau mengkhatamkan Al Quran.

*3. Menyediakan “masjid” di rumah*

Mengingat waktu darurat covid mungkin akan panjang dan melewati bulan Ramadhan, alangkah baiknya bila kita memang menyiapkan “masjid” di dalam rumah kita. Bisa dalam ruangan atau kamar khusus, atau juga memanfaatkan salah satu pojok rumah.

Di “masjid rumah” ini kita bisa fokuskan ibadah-ibadah kita. Baik shalat lima waktu, shalat-shalat sunat, maupun juga agenda tilawah dan belajar Islam (tafaqquh fiddin) lainnya. Dengan suasana yang kondusif, ruangan yang wangi dan peralatan ibadah yang lengkap, “masjid rumah” akan membuat suasana hati dan ruhiyah kita ikut terbangun.

Terkait “masjid rumah” ini, Rasulullah SAW telah memberikan arahan agar ada shalat sunnat yang dikerjakan di rumah. Sehingga rumah bercahaya dan tidak gelap seperti kuburan. Nabi SAW bersabda:

اجْعَلُوْا مِنْ صَلاَتِكُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا

Artinya: “Kerjakanlah sebagian shalatmu di dalam rumah-rumah kalian. Jangan menjadikan rumah seperti kuburan.” (HR Bukhari dan Muslim).

Baginda Rasul SAW juga memprioritaskan pelaksanaan shalat-shalat sunat di rumahnya. Beliau bersabda:

وَلأَِنْ أُصَلِيَ فَيْ بَيْتِيْ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُصَلِّي فِيْ مَسْجِدِ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَة.

Artinya: “Aku mengerjakan shalat di dalam rumahku lebih aku sukai dari pada shalat di masjid kecuali shalat fardhu” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Menyediakan masjid di rumah merupakan perilaku para salafush shaleh dari kalangan sahabat dan Tabi’in. Mereka adalah orang-orang yang memiliki tingkat ubudiyah yang tinggi. Siang dan malam mereka isi dengan berbagai amalan sunnah. Mereka berdiri, rukuk dan sujud dalam waktu yang panjang. Sahabat mulia Abdullah bin Mas’ud ra pernah menyatakan:

مَا مِنْكُمْ إِلاَّ وَلَهُ مَسْجِدْ فِيْ بَيْتِهِ

Artinya: “Setiap kalian hendaklah telah mempunyai masjid di dalam rumahnya.” (Atsar shahih riwayat Muslim, Abu Daud dan Ahmad).

Diriwayatkan juga oleh Abu Hurairah ra, bahwa seorang lelaki dari kaum Anshar memohon Rasulullah SAW datang (ke rumahnya) untuk berkenan menggarisi tempat sebagai masjid di dalam rumahnya, untuk dia jadikan sebagai tempat shalatnya. Itu dilakukannya setelah ia mengalami kebutaan dan kemudian Nabi SAW memenuhinya. (HR Ibnu Majah).

Ada juga seorang sahabat Nabi yang bernama ‘Itban bin Malik ra, yang membuat masjid di dalam rumahnya. Hal itu ia lakukan karena terhalang pergi ke masjid kaumnya disebabkan terjadinya air bah. Maka ia meminta kepada Rasulullah SAW untuk menetapkan (bahasa kerennya meresmikan) masjid rumah tersebut.

‘Itban berkata, “Wahai Rasulullah, air bah telah menghalangiku untuk mendatangi masjid di kampung (untuk shalat fardhu). Aku ingin engkau mendatangiku dan kemudian mengerjakan shalat disuatu tempat (yang nantinya) aku jadikan sebagai masjid (masjidul bait)”. Nabi SAW menjawab, “Baiklah”.

Keesokan harinya, Rasulullah SAW mendatangi Abu Bakar dan memintanya untuk mengikuti beliau. Ketika memasuki (rumah ‘Itban), Rasulullah SAW berkata, “Dimana tempat yang engkau inginkan?” Maka ‘Itban menunjuk ke satu pojok rumahnya. Kemudian Rasulullah berdiri dan shalat (disitu). Dan kami berbaris di belakang Beliau. Beliau mengerjakan shalat dua rakaat bersama kami”. (HR Ahmad dan Bukhari dengan lafadz yang berbeda).

Dalam suasana karantina covid 19 ini, keberadaan masjid rumah menjadi sunnah yang harus kita hidupkan. Sediakan sajadah, mushaf, mukena dan perangkat lainnya. Demi Ramadhan kita yang lebih semarak.

*4. Tingkatkan kedermawanan.*

Wabah covid 19 tidak boleh menghalangi kita untuk menghidupkan banyak sunnah Rasulullah SAW selama Ramadhan. Peluang memberikan perbukaan bagi orang-orang yang berpuasa menjadi sangat tinggi nilainya. Baik kepada tetangga maupun kepada orang-orang yang kebetulan lalu-lalang di dekat kediaman kita.

Dalam kondisi perekonomian yang melamban dan memburuk, lumayan banyak orang-orang yang terdampak secara ekonomi. Sehingga bermunculanlah orang-orang miskin baru yang jumlahnya bisa 3 kali lipat dari sebelumnya. Disinilah kedermawanan menjadi sangat dibutuhkan. Dalam hadits Abdullah bin Abbas ra. ia menceritakan:

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ. كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ .

Artinya: “Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang paling murah hatinya dengan (berbagi) kebaikan, dan Beliau lebih pemurah hati ketika di dalam bulan Ramadhan. Yaitu ketika ditemui oleh Jibril as, dan Jibril as. menemui Beliau setiap malam dalam Ramadhan sampai berakhir (bulan). Maka Beliau adalah seorang yang lebih dermawan dari pada angin yang mengalir. (HR Bukhari dan Muslim).

Berbagi dan peduli di masa-masa sulit seperti ini, dan dalam suasana bulan Ramadhan, menjadikan amalan tersebut sangat mulia dan berpahala tinggi. Bila rumah kita di pinggir jalan, buatlah makanan untuk berbuka. Dibungkus dengan rapi, lalu diletakkan di atas meja di tepi jalan, dengan tulisan: “Gratis untuk anda yang berpuasa”.

*5. Iktikaf dan menghidupkan 10 malam terakhir.*

Puncak Ramadhan itu adalah iktikaf di sepuluh malam terakhir, dalam rangka mencari keutamaan malam Qadar. Kalau suasana belum kondusif, tentu iktikaf di masjid belum bisa dilaksanakan. Akan tetapi sunnah Rasulullah SAW dalam menghidupkan sepuluh malam terakhir, masih terbuka lebar. ‘Aisyah ra menyatakan:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر أحيا الليل، وأيقظ أهله، وجد وشد المئزر (متفق عليه) .

Artinya: “Dahulu Rasulullah SAW jika memasuki sepuluh (akhir dari bulan Ramadhan) menghidupkan malam, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Setiap keluarga muslim sangat mungkin menghidupkan sunnah Rasulullah SAW ini di rumah. Setelah shalat isya berjamaah dan shalat sunat rawatib, seluruh keluarga bisa tidur lebih awal. Lalu tengah malam bangun untuk melaksanakan qiyamullail sampai menjelang sahur. Sehingga malam sepuluh terakhir menjadi hidup.

Dengan demikian Ramadhan di tengah wabah tetap dapat diisi dengan berbagai ibadah dan amal shaleh. Dan peluang meraih malam qadar juga tetap terbuka. Dan meraih Ramadhan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya juga masih sangat memungkinkan.

Waffaqanallahu wa iyyaakum limaa yuhibbuhu wa yardhaah.