Naila Khoiriyah, menolak menyerah

Terlahir dari keluarga sederhana di Cupak, Solok Sumatera Barat. Seorang gadis remaja menolak menyerah dalam menggapai cita-cita.

Naila Khoiriyah atau biasa dipanggil NaKho, anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai supir angkot tua yang di wariskan oleh kakek Nakho (orang tua dari ayah Nakho), setiap pagi angkot tua itu harus didorong untuk menghidupkan mesinnya. Sedangkan ibunya bekerja sebagai tukang cuci dan setrika pakaian.

Semasa duduk dibangku Sekolah Dasar, Nakho kerap menjajakan kue buatan ibunya di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas, keingin menempuh pendidikan di sekolah favorit yang berkualitas terasa mustahil bagi Nakho.

Saat mengikuti lomba disebuah sekolah ternama, mengawali minat dan tekad Nakho untuk melanjutkan pendidikan menengah disekolah tersebut. Setelah bersaing dengan ratusan siswi dari berbagai kota, akhirnya Nakho dinyatakan lulus di SMP Perguruan Islam Ar Risalah Padang. Mendengar kabar kelulusan Nakho, ibunya sangat gembira. Namun ayah Nakho hanya diam, dingin, seketika dunia menjadi sempit untuk sekedar mencari tempat mengelus dada atau mengusap mata, berat baginya mengatakan “abi tak punya cukup uang untuk biaya sekolahmu disana nak”.

Kemudian pihak sekolah meyakinkan Nakho dan kedua orangtuanya, bahwa setiap ada kemauan pasti akan ada jalan. Alhamdulillah, berkat program GNOTA (Gerakan Orangtua Asuh) Yayasan Waqaf Ar Risalah, Nakho dapat melanjutkan pendidikan di SMP Perguruan Islam Ar Risalah, Padang. Program GNOTA lahir untuk mendukung konsep awal pendirian Yayasan Waqaf Ar Risalah sebagai lembaga pendidikan berkualitas bagi semua kalangan.

Saat ini Nakho duduk dikelas tiga SMP Putri Perguruan Islam Ar Risalah yang terakreditasi A. Nakho sudah menyelesaikan hafalan quran 13 juz dan bertekad mengikuti wisuda tahfidz 15 juz.

Selain memiliki prestasi akademik dan tahfiz yang baik. Nakho yang pernah terpilih sebagai bendahara dan ketua kelas juga aktif diberbagai kegiatan nonakademik seperti BES-AR (OSIS), Pramuka, Studi Club Tahfidz dan lainnya.

Setelah lulus SMP, Nakho berkeinginan fokus menghafal Quran 30 juz selama setahun sebelum masuk SMA/MA. Nakho menyadari, bahwa sebuah prestasi dapat menjadi solusi keterbatasan ekonomi. Demi menggapai cita-citanya sebagai Dokter, Nakho bertekad menembus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia melalui jalur Tahfiz 30 juz.

Kita dapat belajar banyak hal dari Nakho, namun kita juga punya kesempatan untuk memilih. Membiarkan Nakho berjuang sendirian, atau turut membersamai proyek kebaikan ini. Meski penerima beasiswa GNOTA, ini belum menjawab seluruh keterbatasan ekonominya dalam menempuh pendidikan. Nakho masih butuh kita, orang tua asuh yang dermawan, yang bersedia ditransfer pahala dari setiap hafalan qurannya.

Percayalah, kita membaca tulisan ini karna Allah yang telah memilih kita agar ikut berkontribusi, menjadi bagian dari estafet panjang yang mengantarkan Nakho mengangkat mahkota disurga.

Padang, 15 November 2021
Edi Kurniawan